Jumat, 27 Juni 2014

Akhirnya, Kuputuskan Mendaftar Pengajar Muda VIII Indonesia Mengajar



             

            Lulus dan mendapatkan gelar sarjana menjadi harapan begitu banyak orang, tetapi hal yang akan dilakukan pasca itu menjadi salah satu milestone dalam hidup, karena saat itu kita akan memilih baik dalam jangka panjang atau pendek tentang kehidupan kita pasca mendapatkan begitu banyak masukan “kata-kata positif” ketika kita kuliah, baik itu dari senior ataupun dari junior, ya inilah awal memasuki dunia sebenarnya.
            Sayapun mengalami masa dimana ada begitu banyak pilihan di depan mata pasca mendapatkan gelar Sarjana Teknik di jurusan Teknik Telekomunikasi di Universitas Telkom d.h. Institut Teknologi Telkom. Sidang di bulan September 2013, sayapun sempat kepikiran untuk lanjut S2 di luar negeri jurusan manajemen, langsung pulang ke kampung halaman, Lumajang untuk beraktifitas disana, bekerja baik itu di Lumajang/kota lain. Kebimbangan itu berhenti saat ada tawaran untuk menjadi salah satu atlet pada “Ekspedisi Astacala 2013: Facing Giant Rock!”, untuk mengibarkan merah putih pertama di Tebing Batu Lawi, Sarawak, Malaysia pada November 2013, dimasa hingga pemberangkatan saya menyibukkan diri dengan persiapan seperti berlatih komunikasi radio, izin, dan beberapa hal lain. Ditengah persiapan itu, saya mendapatkan info lewat twitter bahwa ada pendaftaran Pengajar Muda (PM) VIII Indonesia Mengajar (IM), sebuah mimpi yang dulu sempat saya tanamkan dalam diri pada 2010, saya saat itu belum memiliki alasan yang benar-benar bulat kenapa mendaftar, tetapi saya meyakini bahwa hadir dan mengabdi di daerah terpencil Indonesia itu adalah hal baik dan lagi IM kan punya nama besar dengan reputasi baik pasti bisa mendapatkan banyak hal. Akhirnya saya mendaftar dan mengisi beberapa form yang singkat seperti nama, tempat tanggal lahir, kuliah, saat mengisinya sempat merasa minder karena IPK kurang dari 3, tapi yasudahlah dicoba dulu saja, yang penting niat awal untuk mencoba baik. Hingga masuk pada poin kelima tentang esai, karena begitu banyak dan panjang serta butuh perenungan tentang esai tersebut, saya memutuskan untuk menunda pengerjaannya.

Halaman Web Pendaftaran Pengajar Muda VIII

            Pengerjaan esai benar-benar tertunda saat saya terbang ke Malaysia untuk melaksanakan ekspedisi, saya menjadi tim basecamp yang bertugas untuk menghubungkan rekan-rekan di lapangan dengan sekretariat Astacala dengan menggunakan radio amatir dan juga melakukan penelitian tentang masyarakat adat serta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Bario, Sarawak, Malaysia. Mereka sangat ramah dan membantu sesuai kemampuan mereka, baik bantuan moril maupun materi, walaupun mungkin saat itu mereka sedang tidak punya uang untuk melayani kita, mereka berusaha meminjam uang di kedai (warung, kafe-red) atau menarik iuran dari rekan-rekan sesama TKI, kebaikan dan ketulusan mereka sangat menyentuh. Sayapun melakukan penelitian tentang kehidupan TKI disana, saya mengikuti aktifitas mereka seharin, dari bangun di pagi hari sampai kembali tidur. Beberapa rekan menjadi TKI karena alasan ekonomi tetapi ada juga yang karena memiliki masalah dirumah dan dikejar-kejar oleh aparat kepolisian dan kepergiannya menjadi TKI sebagai pelarian dari masalah yang dihadapinya, ada juga yang karena mencari pengalaman. Sebelum pada akhirnya ditempat ini (Bario-red), alih-alih mencari tempat yang lebih nyaman, ternyata mereka malah diperlakukan hal yang tidak sepatutnya, telat mendapatkan gaji bahkan tidak sedikit yang kerja tidak dibayar, ditipu agen penyalur TKI dengan diambil gaji 60%, dikajr-kejar oleh Bagian Imigrasi Malaysia, paspor ditahan, tidak diberi makan oleh bos, dan berbagai perlakuan yang lain. Hingga pada akhirnya ada rekan yang mengajak untuk pergi ke Bario, dari segi gaji Bario memang lebih besar, tetapi hal itu membuat mereka semakin terlena, hampir setiap malam mereka mabuk di kedai (kafe-red), memiliki teman perempuan disini walaupun sebenarnya di kampung halaman telah memiliki istri, dan tak sedikit yang pada akhirnya harus bercerai karena masing-masing mereka telah memiliki pasangan lagi. Dalam kerasnya kehidupan, mereka masih saja menebarkan kebahagiaan dengan penuh ketulusan.
            Di titik itu, saya berefleksi bahwa, anak-anak di daerah harus dinaikkan derajat mereka dan salah satu faktor penting dalam hal itu adalah pendidikan, mereka harus mendapatkan pendidikan yang baik, yang bukan hanya pada aspek pengetahuan tapi juga tentang perilaku. Hati kecil saya menjerit keras tentang apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka.
Sesampainya di Indonesia, pencarian itu berujung pada semakin bulatnya hati untuk mendaftar sebagai PM VIII, karena berfikir bahwa pencarian itu menjadi salah satu tujuan adanya gerakan ini.
Ketika pada aakhirnya memutuskan mendaftar, hal ini diberiathukan pada oranag tua, ternyata keluarga besar menolak dengan keras bahkan saya dikeluarkan dari group “WhatsApp Family” salah satu kakak meng-unfriend saya di Facebook, bahkan ada perkataan dari Bapak saya, “Kalau masih ingat sama bapak,gak perlu daftar IM!” Ditengah chaosnya hal yang terjadi, dengan keyakinan bahwa yang saya lakukan adalah hal baik dan dengan niat baik, saya masih meneruskan proses pendafaran PM VIII dan berusaha mengakomodir keinginan orang tua untuk segera bekerja. Alhamdulillah pasca mendapat pekerjaan di salah satu perusahan Telekomunikasi swasta di Bandung, suasana hati orang tua mulai membaik, hingga pada akhirnya dinyatakan diterima sebagai Calon PM VIII, saya pulang dan menjelaskan kepada orang tua tentang kegiatan IM ini, tujuannya, apa yang saya inginkan, dan alhamdulillah disetujui walaupun masih terlihat begitu banyak pertanyaan dan menyayangkan kenapa keputusan masuk IM saya ambil, dengan berat hati orang tua mengizinkan dan melepas kepergian saya ke Jakarta untuk pelatihan.
Dan ketika berada di pelatihan saya sering melakukan komunikasi dengan orang tua walaupun hanya sebentar, dan saya benar-benar lega ketika pada pekan ke-8 bapak menelfon saya dengan waktu yang cukup lama, saat itu saya menceritakan bahwa pagi tadi saya dilantik dan telah resmi menjadi Pengajar Muda VIII, hari Minggu depan akan diberangkatkan ke Bima, Nusa Tenggara Barat untuk mengabdi selama satu tahun, Bapak tiba-tiba berkata, “hati-hati disana, dan Selamat Bertugas!” Sebuah kalimat singkat tetapi sangat dalam, sebuah kalimat supportif atas sebuah keputusan kontroversial pilihan anak yang awalnya ditolak dengan sangat keras.
Keluarga Inspirasiku

Disitu saya belajar bahwa ketika niat kita baik dalam melakukan sesuatu, orang tua sebenarnya tahu bahwa hal yang kita lakukan adalah baik, tetapi karena ingin melihat anaknya hidup bahagia dan sejahtera, dan mereka tidak melihat itu pada pilihan hidup kita, sangat wajar jika mereka menolak, dan saat kita kuat dengan pilihan kita dan sabar menjelaskan alasan pengambilan keputusan kepada orang tua saya yakin respon orang tua juga akan sama.
Dan hari ini, adalah H-3 pemberangkatan saya ke Bima, sebuah tempat yang akan menjadi tempat belajar dan berbagi disana selama satu tahun. Teriring do’a semoga niat ini terus diluruskan, dimaksimalkan usaha saya, dan tetap rendah hati dalam melaksanakannya. Selalu ingat bahwa selama  setahun nanti jika ada pahala, semua akan terus mengalir untuk kedua orang tua.
Hangatnya suasana di Wisma Handayani, Jakarta Selatan
12 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar